Nilam Socio Enterprise: Memberdayakan Masyarakat Desa Tertinggal, Menyingkirkan Tengkulak

Yogyakarta – Indonesia adalah tanah surga. Ia memiliki tanah yang subur dengan begitu banyak potensi alam yang berada di dalamnya. Namun sayangnya, kekayaan Indonesia ini malah disalahgunakan oleh tengkulak yang menjual bahan baku ke luar negri dengan harga mahal. Salah satunya adalah nilam (Pogostemon cablin). Para tengkulak itu mengekspor nilam basah, kering maupun minyak nilam. Indonesia memenuhi sekitar 90% kebutuhan nilam di dunia. Mirisnya, Indonesia justru mengimpor olahan nilam dalam bentuk parfum dan produk turunan minyak atsiri.

Melihat permasalahan tersebut, Ghazlisman berinisiatif untuk mendirikan Nilam Socio Enterprise. Prinsip utama Nilam Socio Enterprise adalah memberdayakan masyarakat miskin di desa tertinggal, salah satunya petani nilam dengan memberikan bibit nilam di lahan-lahan kurang produktif dan mengembalikan hasil panen kepada masyarakat dalam bentuk bantuan untuk pembangunan infrastruktur desa. Ghazalisman menegaskan, ”Keuntungan Nilam secara teknis berasal dari sistem perusahaan yang kami terapkan. Sistem kami menjadi yang terdepan dibandingkan dengan pengusaha atau perusahaan lain karena baru kami yang pertama menerapkan sistem membantu masyarakat dengan memberikan 100% keuntungan dari hasil penjualan minyak nilam untuk pembangunan infrastruktur desa tertinggal.”

Nilam Sosio Enterprise lantas membeli bahan mentah, mengolah dan memasarkan hasil olahan nilam tersebut. Mereka membeli bahan mentah seharga Rp 1.500 – Rp 2.000 untuk nilam basah dan Rp 5.000 – Rp 10.000 untuk nilam kering dengan pertimbangan kualitas bahan mentah dan jarak dari pabrik. “Harga yang kami berikan cukup stabil dibandingkan dengan harga yang diberikan tengkulak,” ucap Ghazalisman. Setelah itu, Nilam Socio Enterprise mengolahnya menjadi minyak atsiri yang digunakan untuk bahan baku parfum. Hasil olah tersebut lantas dipasarkan ke luar negri dengan Singapura dan Amerika sebagai pasar tetap.

Salah satu kegiatan Nilam Socio Enterprise, sosialisasi sociopreneur dan pemberian bantuan berupa bibit nilam gratis untuk siswa sekolah dasar di SD Tlogo, Yogyakarta pada November tahun lalu.

Nilam Socio Enterprise terus mengembangkan bisnis mereka di dua tempat, yaitu Yogyakarta sebagai pusat riset dan Riau sebagai industri. Ghazalisman mengatakan,“Kami sekarang sudah memiliki pabrik sendiri di kota Bangkinang, Riau dengan omzet yang kami peroleh setiap bulannya sebesar Rp 150.000.000/bulan.”

Hingga saat ini, Nilam Socio Enterprise mengaku masih terus berusaha untuk memperbaiki kualitas SDM dan perekonomian masyarakat di desa tertinggal. ”Sejauh ini tantangan yang kami hadapi adalah menyeragamkan kualitas SDM. Hingga saat ini kami masih butuh bantuan para tenaga ahli dan beberapa dari kami yang terjun ke masyarakat langsung untuk melakukan pembinaan,” ujar Ghazalisman.

Selain itu, segala proses dan pencapaian yang mereka dapatkan hingga saat ini tak lepas dari peranan SOPREMA. Ghazalisman mengatakan, “Soprema sebagai ajang bergengsi kompetisi sociopreneur muda tingkat nasional, telah memberikan kesempatan kepada anak muda yang memiliki mimpi besar untuk mewujudkannya lewat pembinaan, edukasi, serta bantuan pendanaan. Bersama SOPREMA pula, Nilam Socio Enterprise di terima sebagai salah satu perusahaan sosial terbaik di Indonesia.”

Target kedepannya, mulai tahun ini secara bertahap Nilam Socio Enterprise bisa menjadi salah satu pemilik brand parfum di Indonesia dengan memanfaatkan pengolahan tanaman nilam sebagai bahan baku yang sedang mereka kembangkan. Selain itu, mereka juga ingin menyamakan standar kualitas perkebunan masyarakat dan mendatangkan alat-alat canggih untuk pengelolahan perkebunan di desa tertinggal.