Indotani Makmur: Tingkatkan Pertanian Boyolali melalui Pendampingan Petani

Yogyakarta – Jumlah petani di Indonesia terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Data terakhir dari Badan Pusat Statistik menyebutkan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian terus mengalami penurunan dari 38,97 juta pada 2014 menjadi 37,75 juta pada 2015. Salah satu penyebabnya adalah waktu budidaya tanaman yang lama. Untuk petani beras saja, rata-rata para petani harus menunggu waktu hingga tiga bulan untuk sekali panen. Hal ini terjadi di setiap daerah di Indonesia, salah satunya di Boyolali. Permasalahan inilah yang melatarbelakangai Rani Pajrin atau yang akrab disapa Roni untuk mendirikan sebuah bisnis di bidang pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, khususnya di Boyolali.

Indotani Makmur adalah salah satu usaha agrobisnis yang tumbuh dan berkembang di Boyolali, Jawa Tengah yang didirikan oleh Roni. Melihat berbagai permasalahan yang dihadapi para petani di Boyolali, Roni mencoba untuk membantu para petani dengan melakukan pendampingan dan juga pemasaran produk mereka agar memiliki nilai jual yang tinggi dengan mengubah kemasan produk agar lebih menarik.

“Produk unggulan kami adalah jamur tiram dan beras organik. Antara jamur tiram dan beras organik saat ini telah menjadi satu kesatuan bisnis karena ketika petani memproduksi beras, mereka kami berikan subsidi berupa pemasukan yang didapatkan melalui usaha jamur,” kata Roni. Dari kedua komoditi tersebut, Roni mengaku bahwa Indotani Makmur saat ini telah memiliki lebih dari dua puluh petani binaan yang masih dan akan terus bertambah jumlahnya.

Pelatihan pembuatan pupuk organik oleh Indotani Makmur kepada para petani binaan di Lembah Hijau Multifarm, Sukoharjo pada tahun 2015

Hasil panen para petani binaan tersebut di jual ke Solo, Semarang, dan pasar-pasar tradisional di sekitarnya, Indotani Makmur juga menjual produknya di Botanimart, sebuah minimarket organik milik Indotani Makmur yang menjual berbagai hasil dari petani sayur, beras, dan berbagai pelaku UMKM yg didampingi untuk menciptakan hasil yang bernilai jual tinggi dengan mengubah packagingnya. Roni mengatakan bahwa tidak ada syarat khusus untuk bekerjasama dalam menjual produk di Botanimart, namun ada standar yang telah mereka tetapkan bersama komunitas yang memudahkan kontrol atas produk yang di jual.

Untuk jamur tiram segar, Indotani Makmur menjualnya seharga Rp 10.000/kg. Selain itu, mereka juga memiliki produk-produk turunan dari jamur, salah satunya keripik jamur yang diberi nama Shilegi Jamur Crispy. Selain itu, untuk beras organik mereka menjual tiga jenis beras, yaitu beras pandan wangi seharga Rp 20.000/kg, beras merah seharga Rp 25.000/kg, dan beras hitam seharga Rp 35.000/kg. Dari hasil penjualan berbagai produk tersebut, Indotani Makmur mampu mengantongi omzet sekitar Rp 35.000.000/bulan, tergantung dari permintaan pasar.

Saat ini, Roni dan tim yang berada dalam jajaran managerial Indotani Makmur sedang berusaha untuk menjalankan botanimart.com, sebuah situs belanja online yang menjual produk-produk Botanimart. Hal ini tidak lain untuk memperluas pasar mereka. “Harapannya, selain botanimart.com, kami ingin membuka cabang Botanimart di kota-kota lainnya. Namun itu masih rencana, kami ingin melihat perkembangan Botanimart yang sedang kami kembangkan di Boyolali terlebih dahulu,” ungkap Roni.

Roni mengaku bahwa keberhasilannya mengembangkan usaha ini tidak lepas dari peran SOPREMA 2016. “Banyak sekali manfaat yang saya dapatkan untuk mengembangkan bisnis ini dari SOPREMA 2016. Selain menambah relasi, saya juga memiliki pengetahuan baru yang saya dapatkan dari coaching clinic yang memberikan saya arahan yang lebih jelas untuk menjalankan bisnis ini. Saya jadi punya strategi yang jelas, bisnis jadi lebih terarah,” kata Roni.