Najah: Sulap Jeruk Sambal menjadi Sirup khas Kalimantan Barat

Yogyakarta – Produksi bahan baku jeruk sambal di Indonesia mencapai 120.000 kg/tahun. Namun, produksi bahan baku jeruk sambal yang melimpah tidak diimbangi dengan pengolahan yang memadai. Hingga saat ini, pengolahan bahan baku jeruk sambal masih sangat rendah. Selain itu, harga jeruk sambal yang relatif murah, membuat banyak jeruk sambal yang terbuang atau tidak terdistribusi secara maksimal.

Melihat permasalahan tersebut, Asep Ramadhan bersama kedua temannya, Panca Yudha Pratama dan Firmansyah Khodariyadi mendirikan sebuah usaha yang bergerak di bidang kuliner. Ia dan rekannya mendirikan sebuah usaha yang diberi nama Najah. “Najah adalah sebuah bisnis kuliner yang mengembangkan bahan baku lokal, yaitu jeruk sambal. Selain itu, Najah juga sebagai sarana promosi dan pengolahan bahan baku khas dari Kalimantan Barat. Di sisi lain, kami juga ingin membantu petani dalam mengelola jeruk sambal menjadi sirup,” kata Asep, salah satu CEO Najah.

Hingga saat ini, Najah telah membina sepuluh petani jeruk sambal yang memasok bahan baku untuk pembuatan sirup Najah. “Kami menampung hasil panen berupa bahan baku jeruk sambal dari para petani yang kami bina dan membelinya seharga Rp 3.500/kg. Hal ini kami lakukan sebagai upaya kami dalam menstabilkan harga bahan baku jeruk sambal,” pungkas Asep. Selain melakukan pembinaan kepada para petani, Najah juga bertujuan untuk mengurangi beban para petani dengan menstabilkan harga serta membantu dalam pendistribusian jeruk sambal itu sendiri.

Berbagai strategi promosi telah dilakukan tim Najah, salah satunya adalah dengan membuka stan di depan retail penjualan produknya seperti yang dilakukan pada Februari lalu.

Produk berupa sirup Najah ini telah masuk ke lima belas toko dan rumah makan, mulai dari toko oleh-oleh, retail, minimarket, hingga supermarket di Pontianak, Kalimantan Barat. Tak hanya di dalam kota saja, namun permintaan sirup Najah juga datang dari berbagai kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan Padang.

Untuk satu kemasan 370 ml sirup Najah di jual dengan harga Rp 25.000. Dari hasil penjualan tersebut, Najah mampu mengantongi omzet sebesar Rp 6.000.000/bulan. Namun di balik kesuksesan tersebut, ternyata ada tantangan di baliknya. Asep mengaku bahwa dalam pemasaran produknya, distribusi yang terlalu jauh masih menjadi tantangan, baik distribusi bahan baku maupun ke pasar-pasar. Selain itu, alat produksi yang dimiliki hanya mampu memproduksi 500 botol/bulan.

Bagi proses hingga kemajuan bisnis Najah, SOPREMA memiliki andil yang cukup besar. “80% usaha yang sedang kami jalankan ini tidak lepas dari bantuan yang diberikan dari SOPREMA dalam bentuk dana. Kami cukup terbantu khususnya demi kemajuan bisnis kami, baik dari teknologi maupun kapasitas produksi,” pungkas Asep. Target ke depannya, Najah ingin meningkatkan produksi sirup najah dengan memperbarui peralatan produksi sehingga mampu mencapai target 1.000 botol/bulan dan bisa bersaing di pasar-pasar modern, seperti Indomaret, Alfamart, Carefour, dan Hypermart. Selain itu, Najah masih ingin mempertahankan rasa original untuk mengangkat dan mempertahankan kekhasan rasa dari jeruk sambal itu sendiri.