Industri Kreatif Dominasi Top 100 SOPREMA 2017

Yogyakarta – Seleksi awal SOPREMA 2017 telah menjaring 100 proposal terbaik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan sebaran 29 provinsi, mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua. Topik Industri Kreatif saat ini cukup unggul dalam jumlah tim lolos dibandingkan dengan topik Ketahanan Pangan. Kualitas tim lolos tahun ini meningkat dari tahun lalu sebab semakin banyak tim dapat menunjukkan potensi berkelanjutan.

Kategori  Industri Kreatif meloloskan 29 tim kick off dan 31 tim start up. Sementara itu, 21 tim kick off 19 tim start up lolos dengan topik Ketahanan Pangan. Dari 100 tim yang lolos, terdapat 50 tim dari kategori kick off dan 50 tim dari kategori start up. Peserta kategori Ketahanan Pangan maupun Industri Kreatif didominasi dari pulau Jawa.

Menurut Dr. Hempri Suyatna, seratus tim yang lolos memiliki program yang inovatif, berpotensi berkelanjutan, dan memiliki dampak kuat untuk pengentasan masalah-masalah sosial. Hal inipun diakui oleh Ekazuni Lusi Astuti, salah satu juri untuk topik industri kreatif pada kategori kick off. “Keunggulan 100 tim yang lolos dalam seleksi awal ini adalah untuk sebagian proposal sudah memasukkan aspek social entrepreneurship walaupun masih belum detail terhadap pemberdayaan kelompok rentan. Selain itu, proposal berasal dari hampir semua provinsi di Indonesia. Terakhir, secara umum semua tim yang lolos seleksi awal memiliki perencanaan bisnis yang bagus,” kata Lusi.

Salah satu tim yang berhasil lolos adalah Agradaya dari kategori start up dengan tema Ketahanan Pangan. Agradaya adalah kewirausahaan sosial yang berfokus pada pengembangan produk rempah yang diolah secara natural. Usaha yang dimulai sejak Mei 2016 ini telah bermitra dengan 157 petani rempah di wilayah Perbukitan Menoreh, Kulonprogo Yogyakarta. Produk olahan rempah yang dihasilkan merupakan jenis biofarmatika seperti jahe, temulawak dan kunyit untuk dihasilkan dalam bentuk minuman herbarl, essential oil dan ekstrak powder yang bermanfaat sebagai bahan makan dan minuman serta kebutuhan farmasi.

Lusi menambahkan bahwa panitia berharap, dari 100 tim yang lolos bisa saling belajar tentang social entrepreneurship dari kompetisi SOPREMA, baik melalui masukan para juri, coaching clinic, seminar, maupun field trip sehingga mereka mampu mengembangkan bisnis sosial yang dilakukan dengan lebih berpihak pada kelompok rentan.

Seleksi tersebut dilakukan oleh delapan orang juri yang merupakan peneliti Youth Studies Centre (YouSure) FISIPOL UGM, diantaranya Dr. Hempri Suyatna, Peneliti sekaligus Direktur SOPREMA 2017, Muhammad Yahya, Wakil Direktur SOPREMA 2017, Oki Rahadianto Sutopo, Dewi Cahyani Puspitasari, Derajad Sulistyo, Desintha Astriani, Ekazuni Lusi Astuti, dan Bevaola Kusumasari.