Komunitas Tangan di Atas : Kurangi Pengangguran, Berdayakan Entrepreneur

Yogyakarta – Barangkali sebagian dari pembaca pernah mengenal sejumlah produk atau merek di sejumlah daerah seperti seperti kaos Nyenyes di Palembang, Brownies Pisang di Makassar, IdeA Indonesia di Lampung, Master Penyet di Bekasi, Geprek Express di Samarindan dan Heejau di Bogor. Kesamaan dari bisnis-bisnis tersebut ialah para CEO-nya adalah anggota komunitas Tangan di Atas (TDA). TDA mengusung filosofi yang unik yaitu belajar berwirausaha dapat dilakukan dengan saling membantu dan berbagi pengalaman. Alhasil, masyarakat luas turut menikmati manfaatnya.

Tersebutlah Yoki Firmansyah, Iphink Almuarif, Eko Desri, Muh. Arifin, Gusfian Nur,  dan Nisa Rakhmania. Mereka adalah pemilik dari sejumlah bisnis yang disebut di atas. Sederet nama itu adalah sebagian kisah sukses anggota komunitas TDA yang tersebar di lebih dari 60 kota di Indonesia. Sebagai sebuah komunitas, TDA memanfaatkan karakter masyarakat Indonesia yang gemar berkumpul dan bergotongroyong. Bedanya, TDA khusus menjadi wadah untuk belajar berwirausaha.

Pada Februari 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis laporan tentang tingkat pengangguran terbuka di Indonesia. Dari laporan tersebut diketahui bahwa telah terjadi penurunan tingkat pengangguran terbuka menurut daerah dari 5,5% pada Februari 2016 menjadi 5,33% pada Februari 2017. Di sisi lain, jumlah pengusaha di Indonesia juga meningkat. Kementerian Koperasi dan UKM melansir data olahan BPS dan menyimpulkan adanya pertambahan jumlah pengusaha sebanyak 1,5% dari yang semula 1,6% menjadi 3,1% dari jumlah populasi.

Jelas terlihat bahwa saat ini peluang pasar dan bisnis di Indonesia semakin terbuka lebar dan semakin banyak orang yang mencoba untuk membangun sebuah usaha. Namun tak jarang dari mereka yang gagal di tengah jalan karena kurangnya wawasan serta bekal yang cukup untuk membangun dan membesarkan bisnis mereka. Inilah alasan mengapa kehadiran TDA di tengah masyarakat menjadi penting. Mustofa mengatakan bahwa alasan Badroni Yurizman mendirikan komunitas TDA karena adanya keresahan tersebut.

Kehadiran komunitas-komunitas wirausaha tidak hanya marak di Indonesia, namun juga di negara-negara lain, di antaranya United States Association for Small Business and Entrepreneurship di Amerika Serikat, Female Entrepreneur Association di Inggris, Startup Grind di Amerika Serikat, Meetup di Singapura, Young Entrepreneurs Association of Cambodia di Kamboja, dan masih banyak lagi lainnya. Komunitas-komunitas wirausaha ini hadir untuk memfasilitasi para anggotanya untuk terus maju dalam mengembangkan ide maupun usahanya. Mulai dari saling bertukar pengalaman dan belajar dari kesalahan masing-masing anggota, tips bisnis dari para anggota, bimbingan dari pakarnya, dan ilmu keterampilan bisnis terbaru bisa didapatkan.

Begitu juga dengan TDA yang berangkat dari kegiatan saling berbagi pengetahuan di antara anggotanya. Kini TDA memiliki berbagai program yang mendukung para anggota untuk terus maju dan berkembang. Hingga saat ini TDA telah tersebar di lebih dari 60 kota di Indonesia dengan jumlah anggota sekitar 20 ribu orang. Mustofa mengatakan,“Orang-orang yang masih kuliah, masih sekolah, mau masuk kuliah, sudah lulus kuliah, masih kerja, dan mau jadi pengusaha bisa belajar di TDA. Kami menemani mereka supaya lebih berani mengambil action jadi pengusaha. Syaratnya hanya satu, memiliki niat yang sama, yaitu untuk memberikan kontribusi yang positif. Dengan adanya TDA kami ingin meningkatkan jumlah pengusaha yang tidak hanya sukses secara ekonomi namun juga mulia, yang tangan di atas.”

Sebagai komunitas wirausaha terbesar di Indonesia, TDA memiliki acara tahunan dengan mendatangkan seluruh TDA wilayah yang berasal dari seluruh Indonesia maupun luar negeri. Acara ini diberi nama Pesta Wirausaha dan telah dilakukan di puluhan kota di Indonesia dengan beragam kegiatan, di antaranya inspirational stage, digital class, technical class, tutorial class, business clinic, TDA award, business expo, business trip, TDA gathering, TDA for education, community meet up, meet the investor, dan entrepreneur summit. Mustofa mengatakan bahwa kegiatan ini telah dilakukan di 33 kota dengan dihadiri oleh 300 – 1.000 orang di setiap kotanya. “Dengan adanya Pesta Wirausaha, setidaknya ada 15 ribu orang Indonesia yang telah tersentuh dengan kegiatan ini,” ujar Mustofa. Ia juga menyampaikan untuk para generasi muda agar selalu berpikiran positif, bukan hanya berkeluh kesah dan berpikiran negatif terhadap bangsa ini, namun berani mencoba dan berusaha, bangun semangat, terus maju dan jangan takut berproses. ”Daripada mengutuk kegelapan, mari kita nyalakan cahaya meski itu hanya sebuah lilin,” imbuhnya.

Dr. Hempri Suyatna, Direktur Pelaksana SOPREMA 2017 mengatakan bahwa Mustofa Romdloni akan hadir dalam Seminar SOPREMA – Indonesia Youth Summit yang akan diadakan pada 12 Oktober 2017 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Kehadiran TDA dalam acara tersebut diharapkan mampu memberikan inspirasi untuk mengembangkan sociopreneur yang berorientasi pada permodalan dan pendampingan komunitas. Tidak hanya Mustofa dari TDA namun akan hadir juga H. Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga*, Dr. Suprajarto, M.M., Direktur Utama Bank BRI*, Budiono Darsono, Presiden Komisaris kumparan.com, dan juga William Tanuwijaya, CEO Tokopedia*. Jadi catat tanggalnya dan jangan lewatkan kesempatan emas untuk mendapatkan ilmu dari pakarnya! Informasi selengkapnya dapat diakses melalui soprema.fisipol.ugm.ac.id.

 

Hyperlink :

http://www.usasbe.org

http://femaleentrepreneurassociation.com

https://www.meetup.com

https://yeacambodia.org/

https://www.startupgrind.com