Agradaya, Entas Masalah Petani Rempah dengan Pertanian Organik

Yogyakarta – Pertanian adalah salah satu sektor yang vital dalam pertumbuhan perekonomian nasional. Namun sayangnya, kian hari kendala di sektor pertanian selalu hadir dan masih belum bisa teratasi. Agradaya, salah satu peserta SOPREMA 2017 dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, berupaya menghadapi sejumlah kendala yang biasa dihadapi oleh sektor pertanian di beberapa wilayah di Indonesia.

Seperti halnya yang dikatakan Dody Budi Waluyo, Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia yang dikutip dari Kompas.com (http://ekonomi.kompas.com/read/2017/03/30/204932226/tiga.masalah.utama.sektor.pertanian.nasional.apa.saja.), produksi, distribusi, dan keterjangkauan harga menjadi masalah utama di sektor pertanian nasional saat ini. Begitu juga yang terjadi dengan petani rempah yang berada di wilayah perbukitan menoreh, Yogyakarta. Kondisi petani yang belum sejahtera, pengolahan penanaman rempah yang terkontaminasi bahan kimia, harga jual hasil panen yang rendah, panjangnya rantai distribusi pemasaran hasil panen dan tidak ada teknologi tepat guna untuk pengolahan pasca panen.

Agradaya bersama para petani binaan telah membuat lahan demplot rempah organik seluah 500m2 yang berada di Dn. Pringtali, Ds. Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kulon Progo sejak November 2016.

Permasalahan ini mampu dibaca oleh Andhika Mahardika, CEO Agradaya Indonesia dan rekan-rekannya. Mereka berinisiatif untuk mendirikan sebuah usaha yang bukan hanya sekedar mencari keuntungan namun juga membantu meningkatkan kesejahteraan petani-petani rempah di wilayah perbukitan menoreh. “Agradaya adalah kewirausahaan sosial yang berfokus pada pengembangan produk rempah yang diolah secara natural bekerja sama dengan petani skala kecil di wilayah perbukitan menoreh Yogyakarta. Kami saat ini telah bekerja bersama dengan lebih dari 150 petani rempah. Kami fokus untuk menghasilkan produk dari olahan rempah jenis biofarmaka seperti jahe, temulawak dan kunyit untuk dihasilkan dalam bentuk essential oil, herbal drink dan ekstrak Power,” kata Andhika.

Agradaya tidak hanya memproduksi olahan hasil rempah para petani.  Kelompok wirausaha sosial itu memberikan pula pelatihan pertanian alami (organic farming) dan manajemen lahan kepada petani binaan, analisa usaha tani pembuatan solar dryer house, dan selanjutnya pola pembelian langsung (direct-fair trade). Metode pertanian yang diterapkan memperhatikan kesinambungan people, planet, process, dan product. Penggunaan pola pengembangan lahan tanam yang ramah lingkungan mampu menjadikan lahan menyediakan nutrisi secara alami untuk tanaman rempah. Selain itu, membuat petani dapat memanfaatkan   tenaga surya untuk proses pengeringan. Pengolahan secara alami ini pun menghasilkan produk organik yang berkualitas tinggi.

Hingga saat ini, Agradaya telah berhasil memproduksi 15 jenis produk hasil olahan rempah yang dihasilkan dari lahan seluas 72 hektar yang tersebar di perbukitan menoreh. “Pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk digunakan untuk keperluan bersama, di antaranya pembelian sarana dan prasarana pertanian, beasiswa untuk anak-anak petani binaan, pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya,” ujar Andhika. Ia juga menambahkan bahwa dari sistem direct-fair trade dapat meningkatkan pendapatan, mengurangi biaya pembelian pupuk dan nutrisi tanaman, dan menambah nilai jual melalui pengelolahan hasil panen.

Namun ternyata masih banyak kendala yang dihadapi, di antaranya pelatihan sistem pertanian alami yang belum bisa diterima, dilaksanakan, dan dipraktikkan oleh semua petani binaan. Oleh sebab itu, Andhika dan tim telah membuat lahan percontohan agar semua petani dapat terlibat secara langsung dan mengamati perbedaan sistem pertanian konvensional dengan sistem pertanian alami. Upscaling skil tim manajemen Agradaya dalam hal pemasaran dan permodalan juga masih menjadi tantangan. “Upaya yang kami lakukan terkait masalah tersebut adalah dengan mencari mentor, aktif pada program inkubasi dan juga kompetisi,” kata Andhika.

Harapannya di tahun 2018, Agradaya mampu meningkatkan jumlah petani mitra menjadi 1.000 orang. Tak hanya itu, aka nada launching produk baru dan juga perluasan jaringan pemasaran yang saat ini masih terbatas dan belum menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Di tahun 2018 juga mereka ingin meraih sertifikasi BPOM dan sertifikasi organik di level nasional dan juga internasional. “Dengan mengikuti Kompetisi dan Expo SOPREMA 2017 adalah salah satu upaya yang kami lakukan untuk mengembangkan kemampuan manajemen, mengembangkan jaringan dengan sesama pegiat bisnis sosial dan jaringan pemasaran produk, serta mendapat mentoring dari para ahli,” imbuh Andhika.