Berwirausaha Sambil Memberdayakan Masyarakat Bisa Dilakukan di Usia Muda

Kamis (19/4) YouSure FISIPOL UGM mengadakan salah satu rangkaian acara dari SOPREMA 2018 yaitu Bincang Sociopreneur Muda (BIREMA) untuk kedua kalinya. Acara BIREMA kali ini mengambil tema “Mengambil Spirit Kemanusiaan dari Wira Usaha Muda Berbasis Pemberdayaan Sosial” dengan pembicara M. Helmi, wira usaha muda pemilik Angkring Jogja. Acara dilaksanakan di Digilib Cafe FISIPOL UGM.

Sebagai wadah untuk mendorong wira usaha baru, SOPREMA 2018 melalui BIREMA dan acara-acara lainnya mencoba memberikan beragam wawasan baru mengenai dunia wirausaha berbasis sosial. Angkring Jogja sebagai salah satu contoh sukses wira usaha yang dilakukan oleh pemuda diajak untuk berbagi dengan beberapa peserta diskusi tersebut. Helmi sebagai pemilik Angkring Jogja berbagi ceritanya mengenai bagaimana ia memulai usahanya hingga bisa memberdayakan masyarakat di usia yang masih muda.

Helmi bercerita awalnya dia memulai usaha karena melihat di Yogyakarta banyak berdiri kampus dan asrama, namun masyarakat di sekitar kampus dan asrama tersebut belum dapat memanfaatkannya sebagai peluang untuk memperbaiki perekonomiannya. Banyaknya kampus dan asrama menurutnya bisa jadi peluang bisnis yang bisa membangkitkan ekonomi masyarakat. Bermula dari kenalan dengan masyarakat sekitar yang mampu memasak, Helmi membuka usaha angkringan kecil-kecilan karena modalnya tidak terlalu banyak. Berawal hanya dari bisnis jagung bakar lalu berkembang menjadi angkringan, sekarang dia sudah memiliki sekitar 56 buah angkringan yang tersebar di seluruh DIY. Agar bisa bertahan, Helmi melakukan beragam strategi untuk membuat angkringannya laku. Seperti membuat tiga tipe angkringan, lalu membuat standar kualitas untuk angkringannya, membuka kerja sama baik dalam makanan maupun minuman dengan masyarakat sekitar, dan strategi-strategi lainnya.

Selain berbagi cerita suksesnya, Helmi juga berbagi beragam tips agar usaha angkringan itu laku dan dapat memberdayakan masyarakat. Salah satunya yaitu pentingnya membuat ciri khas, mengukur jumlah, dan membangun hubungan baik dengan pembeli. “Yang penting diperhatikan adalah Kualitas, Kuantitas, dan Kontinuitas”, kata Helmi.

Diskusi yang berlangsung pada sore hari itu mendapatkan antusias dari para peserta. Helmi berharap agar nanti banyak lagi wira usaha yang muncul terutama dari golongan pemuda. “Selama kita masih muda, kita buktikan kita masih bisa berprestasi”